Selasa, 24 November 2009

FERTILISASI IKAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumberdaya perikanan adalah salah satu sumberdaya yang mendapat tekanan yang cukup berat. Selain akibat lahan yang semakin sempit, juga akibat pencemaran perairan, yang tendensinya terus meningkat dari tahun ketahun.

Untuk mencegah punahnya ikan, selain dilakukan upaya konservasi juga dilakukan upaya domestikasi dan pembudidayaan. Dalam kegiatan budidaya ikan salah satu aspek penting yang perlu dikuasai adalah aspek reproduksi. Melalui kegiatan pengembangbiakkan (reproduksi) maka siklus hidup ikan dapat berkesinambungan, selain itu dari segi ekonomi juga dapat menguntungkan.

Reproduksi dapat memberikan gambaran tentang aspek biologi yang terkait proses reproduksi, mulai dari differensiasi seksual hingga dihasilkannya individu baru(larva). Dalam kegiatan budidaya perairan, salah satu faktor kunci yang menjadi pembatas adalah ketersediaan benih.

Kontinuitas ketersediaan benih baik dalam kualitas maupun kuantitas merupakan salah satu syarat keberhasilan upaya peningkatan produksi ikan. Penyediaan benih untuk budidaya dapat ditempuh dengan dua cara yaitu ; dengan penangkapan benih di perairan umum dan dengan cara memijahkan ikan peliharaan dikolam pembenihan atau pembuahan secara buatan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan yang perlu kita perhatikan dalam pelaksanaan praktikum ini antara lain:

1. Mengetahui mekanisme terjadinya fertilisasi

2. Mengetahui perkembangan sel telur setelah fertilisasi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pembuahan atau fertilisasi adalah bergabungnya inti sperma dengan inti sel telur dalam sitoplasma hingga membentuk zigot. Pada dasarnya fertilisasi adalah merupakan satuan atau fusi sel gamet jantan dan gamet betina untuk membentuk sel zigot. (Effandie, 1978)

Penggabungan gamet adalah awal dan sangat fital dalam proses fertilisasi. Permukaan kepala dari spermatozoa memiliki reseptor yang memiliki spermophilic dari fertilizing. Dan sisi lain cincin ovophilic akan bergantung pada reseptor-reseptor yang ada pada telur. Sehingga terjadi penggabungan sperma dengan telur. Apabila fertilizing dan reseptor yang terkait dengan group ovophilik. Lapisan cortical dari telur mengandung substansi yang dapat menghalangi group spermophilic dari fertilizing disebut anti fertilizin. (Ginzburg, 1972).

Setelah terjadi penggabungan antara spermatozoa dengan telur, meolekul-molekul bebas dai fertilizin menghalangi antifertilizin dan mencegah terjadinya polysperma. Fertilizin dapat berinteraksi dengan reseptor pada spermatozoa. (Lille dan Tyler, 1977)

Proses terjadinya Penyatuan Gamet

Agen Aktif

Efek Biology

Lokasi

Karateristik kimia

Gimnogamon I

(punya sel telur)

Meningkatkan mortalitas spermatozoa dan memperpanjang masa mortal serta menetralisir aksi androgaman

Dalam telur (salmon)dikeluarkan ke lapisan vatelin, cairan telur dan mikrofil.

Sangat termostabil dan pekat cahaya, di duga sebagai carotenoit astaxantin

Gimnogamon II

Menyebabkan penggumpulan spermatozoa, menetralisir androgamon II

Dalam kortex alveli di lepaskan ke lapisan vatelin, tidak dikeluarkan oleh yang tidak subur.

Termolabil mengandung protein dan fospat

Androgamon I

(punya sel sperma)

Menekan mortilititas sperma

Dalam spermatozoa

Termostabil, larut dalam metanol, tahan terhadap tripsin, memiliki berat molekul rendah.

Androgamon II

Melarutkan jelli telur

Dalam spermatozoa dalam semen.

Termostabil, protein yang tidak larut dalam metanol

BAB III

METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Adapun praktikum kali ini dilaksanankan pada tanggal 10 April 2008 dan bertempat di Laboratorium Departemen Perikanan VEDCA Cianjur.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah ;

v Mikroskop

v Monitor

v Kaca preparat

v Fiber glass

v Pipet

v Cawan petri

v Suntik

Bahan yang digunakan adalah ;

v Aquades

v Ovaprim

v Ikan nila

v Ikan patin

C. Langkah Kerja

o Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.

o Induk ikan nila dan patin yang berada di kolam air deras diambil dan dipindahkan ke fiber glass.

o Lakukan penyuntikan dengan menggunakan oveprim (penyuntikan pertama).

o Setelah lima jam, lakukan penyuntikan kedua.

o Setelah lima jam, ambil induk dan lakukan striping untuk mengeluarkan telur dan sperma.

o Tamping telur dan sperma kedalam cawan petri yang berbda.

o Ambil beberapa cc telur dan letakkan pada cawan petri yang telah berada dibawah mikroskop.

o Ambil beberapa cc sperma dan dan tetskan di cawan petri yang telah berisi telur dan dibawah mikroskop.

o Amati proses fertilisasi dan catat hasilnya.

BAB IV

HASIL DAN PEBAHASAN

4.1 Hasil

H:\Picture0005.jpgGambar 1 (pukul 23.00) Gambar 2 (pukul 23.45)

H:\Picture0004.jpg

H:\Picture0008.jpgH:\Picture0007.jpg Gambar 3 (pukul 24.00) Gambar 4 (pukul 24.30)

H:\Picture0010.jpgH:\Picture0011.jpg Gambar 5 (pukul 24.45) Gambar 6 (pukul 01.15)

Gambar 7 (pukul 01.30) Gambar 8 (pukul 01.45)

H:\Picture0014.jpgH:\Picture0012.jpg

Gambar 9 (pukul 02.15) Gambar 10 (pukul 03.30)

H:\Picture0017.jpgH:\Picture0016.jpg

4.2 Pembahasan

Pembuahan atau fertilisasi merupakan asosiasi gamet, dimana asosiasi ini merupakan mata rantai awal dan sangat penting pada proses fertilisasi. Rasio pembuahan sering digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi kualitas telur. Penggabungan gamet biasanya disertai dengan pengaktifan telur. Selama fertilisasi dan pengaktifan, telur-telur ikan teleostei mengalami reaksi kortikal. Kortikal alveoli melebur, melepaskan cairan koloid, dan selanjutnya memulai pembentukan ruang periviteline (Kjorsvik et al., 1990 dalam Utiah, 2006). Kortikal alveoli muncul setelah terjadinya fertilisasi dan reaksi kortikal yang tidak lengkap menunjukkan kualitas telur yang jelek. Beberapa hal yang mempengaruhi pembuahan adalah berat telur ketika terjadi pembengkakan oleh air, pH cairan ovari, dan konsentrasi protein (Lahnsteiner et al., 2001).

Dari hasil praktikum yang kami amati bahwa pembuahan secara fertilisasi melibatkan penggabungan sitoplasma (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus (kariogami). Zigot itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus seksual eukariota, dan pada dasarnya gamet-gamet yang melebur adalah haploid. Apabila keduanya motil seperti pada tumbuhan, maka fertilisasi itu disebut isogami, apabila berbeda dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka disebut anisogami, bila satu tidak motil (dan biasanya lebih besar) dinamakan oogami.

Pengamatan dalam praktikum fertilisasi ini menggunakan ikan mas, jika dilihat dari pembuahannya, ikan mas membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun dalam fertisasi ikan patin tidak memerlukan waktu yang lama. Fertilisasi mengalami 4 pembelahan sel untuk menghasilkan zigot yang baru. Dapat disimpulkan setiap jenis ikan mengalami fertilisasi yang berbeda

Dari hasil yang didapatkan bisa disimpulkan bahwa fertilisasi adalah bergabungnya inti sperma dengan inti sel telur. Dimana persatuan antara sperma dan sel telur terjadi diluar tubuh induk (fertilisasi eksternal). Ketika telur dilepaskan kedalam air akan mengeluarkan bahan atau substansi yang dapat merangsang spermatozoa untuk berenang atau berusaha mencapai telur.

Permukaan kepala dari spermatozoa memiliki reseptor yang dapat menangkap spermophilik dari fertilizing. Setelah terjadipenggabungan antara spermatozoa dengan sel telur. Molekul-molekul bebas dari fertilizin menghalangi antifertilizin dan mencegah terjadinya polysperm. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

BAB V

KESIMPULAN

Dari praktikum dan pembahasan yang kami lakukan. Bisa disimpulkan bahwa fertilisasi adalah bergabungnya inti sperma dengan inti sel telur. Dimana persatuan antara sperma dan sel telur terjadi diluar tubuh induk (fertilisasi eksternal). Ketika telur dilepaskan kedalam air akan mengeluarkan bahan atau substansi yang dapat merangsang spermatozoa untuk berenang atau berusaha mencapai telur.

Penggabungan gamet adalah awal dan sangat fital dalam proses fertilisasi. Permukaan kepala dari spermatozoa memiliki reseptor yang memiliki spermophilic dari fertilizing. Dan sisi lain cincin ovophilic akan bergantung pada reseptor-reseptor yang ada pada telur. Sehingga terjadi penggabungan sperma dengan telur. Apabila fertilizing dan reseptor yang terkait dengan group ovophilik. Lapisan cortical dari telur mengandung substansi yang dapat menghalangi group spermophilic dari fertilizing disebut anti fertilizin.

Setelah terjadi penggabungan antara spermatozoa dengan telur, meolekul-molekul bebas dai fertilizin menghalangi antifertilizin dan mencegah terjadinya polysperma. Fertilizin dapat berinteraksi dengan reseptor pada spermatozoa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar